Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Kamis, 09 Januari 2020

Borneo di Mata Dunia

akhidedy.blogspot.com


Boneo di Mata Dunia

 Loc: Bengkayang, KalBar

Ketika saya melakukan sebuah riset kecil-kecilan melalui Google Search tentang Borneo di Mata Dunia (nama Borneo lebih dikenal oleh penduduk luar negeri) sedangkan penduduk lokal lebih mengenal dengan sebutan “Kalimantan”. Ada beberapa hal menarik yang saya temukan, ternyata “Kalimantan (Borneo)” adalah pulau nomor tiga terbesar di dunia setelah Papua Nugini di urutan kedua dan Greenland diurutan pertama. Dengan luas 743.330 km2 mencakup wilayah Brunei dan Malaysia di dalamnya. Nama Borneo sendiri berasal dari referensi Barat awal yang digunakan oleh Belanda pada masa pemerintahan kolonial terhadap pulau tersebut.  Pulau ini juga dikenal  dengan hutan tropis yang sangat luas dan tebal. Dimana hutan-hutannya memiliki keanekaragaman hayati paling banyak di planet ini. Menurut WWF, pulau ini diperkirakan memiliki setidaknya 222 spesies mamalia (44 darinya khas), 420 burung yang menetap (37 khas), 100 amphibi, 394 ikan (19 khas), dan 15.000 tumbuhan (6.000 khas) -- lebih dari 400 dari yang telah ditemukan sejak tahun 1994. Survey menemukan lebih dari 700 spesies pohon di lahan 10 hektar.

Sebagai salah satu pulau yang menyumbang oksigen terbesar di dunia. Maka untuk mempertahankan eksistensinya. Pemerintah pusat melibatkan daerah dalam pelaksanaan Peraturan Presiden Perpres No. 3 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan. Agar dapat mengalokasikan sedikitnya 45% wilayah Kalimantan sebagai paru-paru dunia, sebagai salah satu upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% pada tahun 2020.  Berdasarkan pembagian jenis hutannya Borneo terdiri dari beberapa jenis hutan yang menjadi perhatian pemerintah secara khusus di tahun 2020, sebagai bentuk mempertahankan eksistensi Borneo sebagai paru-paru dunia. Adapun hutan-hutan tersebut terdiri dari Hutan Bakau, Hutan Rawa Gambut, Hutan Pegunungan, Hutan Kerangas, dan Hutan Dipterokarpa.

Hutan Bakau
https://rimbakita.com/wp-content/uploads/2019/03/bakau-indonesia.jpg
Hutan ini berlokasi di pinggiran laut berfungsi sebagai benteng pencegah abrasi atau pengikisan pantai oleh gelombang air laut. Berdasarkan data WWF memperkirakan bahwa luas daerah yang ditumbuhi bakau di Borneo mencapai 1,2 juta hektar, bagian yang sedikit -- mungkin kurang dari 20 persen -- dari keberadaan aslinya.

Hutan Rawa Gambut
Lahan gambut sisa terbakar tahun 2015, terletak di eks PLG Sejuta Hektar Kalteng. Foto: Ridzki R. Sigit
Lahan gambut sisa terbakar tahun 2015, terletak di eks PLG Sejuta Hektar Kalteng. Foto: Ridzki R. Sigit
Berdasarkan data Global Wetlands yang diakses pada 16 April 2019, Indonesia memiliki lahan gambut terbesar kedua di dunia dengan luas mencapai 22,5 juta hektare (ha). Sedangkan urutan pertama ditempati Brazil dengan luas lahan gambut sebesar 31,1 juta ha. Dengan sumbangan lahan sebesar 6.6 juta ha dari  Borneo, Papua diurutan pertama penyumbang tersebar.  Gambut merupakan lahan basah yang kaya akan material organik. Terbentuk dari akumulasi pembusukan bahan-bahan organik selama ribuan tahun. Keberadaannya memiliki berbagai manfaat. Antara lain, gambut bisa menyimpan 30 persen karbon dunia, mencegah kekeringan, dan mencegah pencampuran air asin di irigasi pertanian. Selain itu, gambut juga menjadi rumah bagi satwa langka.

Hutan Pegunungan
Eiger Gelar Black Borneo Expedition 2016
Sumber Photo https://mediaindonesia.com
Hutan pegunungan di Borneo biasanya ditemukan pada ketinggian 900 meter hingga 3.300 meter. Pohon-pohon di hutan ini umumnya lebih pendek dari yang ada di hutan dataran rendah, akibatnya kanopi yang ada pun tak terlalu lebat. Langner dan Siegert (2005) memperkirakan bahwa di tahun 2002 tersisa sekitar 70 persen (1,6 juta hektar) dari luas asli hutan montane di Borneo (2,27 juta hektar). (dikutip dari situs https://world.mongabay.com/indonesian/borneo.html  )


Hutan Kerangas
Google Image
hutan yang memiliki lahan ekstrem dan rawan atau sangat peka terhadap gangguan misalnya kebakaran. Kata kerangas berasal dari bahasa Dayak Iban yang memiliki arti "tanah yang tidak dapat ditanami padi". Sebutan tersebut diberikan karena kandungan tanah yang membentuk hutan kerangas sangat miskin unsur hara. Tipe hutan ini seringkali ditemukan pada ketinggian kurang dari 800 m dpl.  Tanah ini menyerap air dengan baik.  Tanah pada hutan kerangas umumnya miskin hara.   Pepohonan sangat bergantung pada humus di lantai hutan yang relatif tipis.  Vegetasi yang mampu bertahan di hutan kerangas umumnya telah beradaptasi secara luar biasa karena kondisi tanah hutan kerangas memang sangat ekstrem.  Salah satu contoh vegetasi hutan kerangas adalah genus Nephentes atau biasa disebut kantong semar, menyerap nutrisi dari hewan dan serangga yang masuk terjebak ke dalam kantung yang dimilikinya. Serangan dan hewan itulah yang kemudian diserap oleh kantong semar sebagai nutrisi supaya tetap bisa bertahan hidup di atas lahan ekstrem hutan kerangas

Hutan Dipterokarpa
Foto Tempat Wisata Menawan di Kalimantan Timur Pesona Indonesia - fototrip 3
Google Image
Hutan dipterokarpa di dataran rendah adalah hutan yang paling beragam penghuninya dan paling terancam di Borneo (68% dataran rendah telah ditebangi di Kalimantan, 65% di Malaysia). Pepohonan raksasa ini, biasanya lebih tinggi dari 45 meter, adalah sumber kayu-kayu yang paling bernilai di Borneo dan telah ditebangi dengan buasnya selama 3 dekade ini. Langner dan Siegert (2005) memperkirakan bahwa hanya kurang dari 30 juta hektar hutan dipterokarpa dataran rendah yang tersisa di Borneo pada tahun 2002.

Selain dikenal dengan hutannya yang luas borneo juga dikenal dengan pupulasi binatang endemiknya. Misalnya seperti Orang Utan, harimau Kalimantan, Burung Rangkop, Ikan Arwana dan masih banyak lagi populasi-populasi binatang endemik lainnya. Penasaran dengan pesona Hutan Borneo atau Kalimantan silahkan berkujung dan lakukan wisata alam yang menantang dan tentunya akan lebih membuat kita bersahabat dengan alam.





0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib