![]() |
| Inframe : Sitimaulida |
Keraton
Kadariah adalah istana Kesultanan Pontianak yang dibangun pada dari tahun 1771
sampai 1778 masehi. Keraton ini berada di dekat pusat Kota Pontianak,
Kalimantan Barat. sebagai cikal-bakal lahirnya Kota Pontianak, Keraton Kadariah
menjadi salah satu objek wisata sejarah. Dalam perkembanganya, keraton ini
terus mengalami proses renovasi dan rekrontuksi hingga menjadi bentuk yang
sekarang ini. (https://id.wikipedia.org) Bangunan
yang bernuasa arsitektur melayu, yang didominasi oleh warna kuning dan sedikit
polesan warna hijau ini menjadi ciri khas dari keraton kadariah. Selain sebagai bangunan bersejarah yang mempunyai
nilai peradaban, keraton kadariah
menjadi salah satu objek wisata yang wajib untuk di kunjungi oleh para wisatawan
yang datang ke kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Keberadaan
Keraton Kadariah tidak lepas dari sosok Sayyid Syarif Abdurrahman Alkadrie
(1738-1808), yang merupakan Sultan Pertama Kesultanan Pontianak. Beliaulah yang
menjadi cikal bakal terbangunnya Keraton Kadariah. Awal mula pembangunan Keraton Kadariah dimulai pada tahun 1771 M dan selesai pada tahun 1778 M. Sejarah mencatat bahwa pada tahun tersebut
telah terjadi 2 bangunan berupa Masjid Jami’ dan Keraton Kadariah serta
dibukanya hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai
Kapuas Besar untuk tempat tinggal. Sebagai seorang Syarif atau Sayyid, sekaligus
sultan Sayyid Abdurrahman tentunya menerapkan sistem islam dalam segi
pemerintahannya sebagai seorang Sultan.
Dari
segi usia Keraton Kadariah kira-kira sudah
berusia ± 3 abad dengan komplek
bangunan yang megah yang berdiri di tepi sungai kapuas. Memiliki ukuran sekitar
30 x 50 meter, bangunan istana terdiri atas 3 tingkat dan hal inilah yang
menjadikannya sebagai istana terbesar yang dimiliki Kalimantan Barat.
![]() | |
|
Di
dalam Keraton sendiri banyak sekali benda-benda bersejarah yang terssimpan. Seperti
Al-Qur’an yang sudah berumur lebih dari 2 (dua) abad yang merupakan tulisan
tangan Sultan Abdurrahman, Tempayan, Baju Kesultanan, Tombak
Penobatan, Cermin Seribu, Silsilah Kerajaan, Lambang Burung Garuda yang
merupakan simbol pancasila, dan masih banyak benda-benda bersejarah lainya.
Benda-benda ini tentu menjadi nilai jual bagi keraton sebab akan mengundang
rasa penasaran bagi para wisatawan yang datang benkunjung baik untuk meneliti
atau hanya sekedar melihat-lihat.
Selain
mengandung nilai-nilai wisata, keraton kadariah juga mengandung nilai-nilai
mistis juga lho. Apabila seorang wisatawan datang ke kota pontianak namun
ia belum menginjakkan kakinya di keraton, maka ia belum berkunjung
ke pontianak. Nilai mistis semacam ini tentunya sudah menjadi kepercayaan
secara turun temurun bagi masyarakat pontianak terutama bagi warga atau
masyarakat yang tinggal di daerah keraton itu sendiri. Jika kita melihat dari
nilai wisata tentunya hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan
yang datang ke kota pontianak.
Keraton Kadariah juga menyediakan fasilitas bebas kunjung lho untuk para wisatawan, atau pelancong yang ingin belajar sejarah atau hanya sekedar melihat-lihat barang-barang peninggalan raja. Asalkan jam berkunjung tersebut tidak mengganggu waktu istirahat raja atau pun penjaga di keraton tersebut. Sebaiknya saat melakukan kunjungan teman-teman atau para wisatan mengadakan janji terlebi dahulu, agar saat kunjungan tema-teman juga bisa bertemu dengan raja secara langsung dan bertanya banyak hal terkait dengan Keraton.
Nah, kita sebagai warga pontianak patut bangga dong. Adanya Keraton Kadariah menjadikan kota pontianak sebagai salah satu kota yang memiliki peradaban. Pesan dari penulis mari kita jaga Keraton Kadariah dengan kita mempelajari serta melestarikan budaya keislaman disana. Untuk teman-teman yang belum pernah berkunjung ke Keraton, segera ajak keluarganya untuk menyempatkan diri merasakan nuasa sejarah disana. Jangan sampai menyesal lho... melewatkan kesempatan emas ini.


0 komentar:
Posting Komentar