Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 17 Maret 2017

Cinta seorang Ibu

akhidedy.blogspot.com


Tentang cinta seorang ibu pada anaknya yang tak ternilai, ia hanya memberi tak pernah meminta. Tetesan darahnya saat melahirkan tak akan mampu terbalaskan olehmu, sekalipun seluruh isi dunia ini engkau hadirkan ke pangkuannya. Umi, bunda, ibu, mama, itulah panggilanku kepadanya saatku masih kecil sampai sekarang pun masih begitu tak pernah berubah, entah bagaimana  kasih sayangku padamu. Aku menyesal pernah marah pada orang yang surgaku saja di telapak kakinya, aku durhaka. Maaf Umi, Ibu, Bunda, Mama, engkau wanita hebat, tak ada wanita di dunia ini yang sepertimu. 

Aku iri tidak bisa seperti Imam Syafi'i kecil. Suatu ketika ketika Imam Syafi'i hendak berpisah dengan ibunya dikarena ingin menuntut ilmu ke negeri Kuffah, air matanya menetes, tumpah, penuh dengan rasa berat dalam hatinya untuk meninggalkan ibunya.  Begitupun sebaliknya, namun Imam Syafi'i kecil diberikan diberikan pelukan hangat oleh ibunya. Dengan senyuman bangga ibunya mengatakan ; "Ibu ridho engkau pergi menuntut ilmu agama, jangan khawatirkan ibu disini. Ibu akan baik-baik saja. Semakin tumbah air mata Imam Syafi'i kecil rasa khawatirnya meninggalkan ibunya harus ia bunuh, ia kubur dalam-dalam sedalam-dalam mungkin, sebab ia bertekad akan memuliakan agama  dan menjadi orang yang faqih.


Ibunya Pun berdoa untuk melepas kepergian Imam Syafi'i ;

"Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh Alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu. Aku Rela melepaskannya untuk menuntut Ilmu Pengetahuan peninggalan Nabi-Mu. Oleh karena itu aku  bermohon kepada-Mu Ya Allah permudahkanlah urusannya. Peliharakalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan Ilmu Pengetahuan yang berguna, Amin!"

Setelah berdo'a ibu Imam Syafi'i memeluk Syafi'i kecil dengan rasa berat bersama dengan linangan air mata yang membanjiri jilbabnya, mencoba berbesar hati mengikhlaskan kepergian anaknya. Sambil mengusap air mata ibunya pun berpesan kepada Syafi'i kecil "Pergilah anakku, aku ikhlas melepaskan kepergianmu. Jadilah permata yang bersinar, doa tulusku menyertaimu."

Ingatlah, bahwa Allah sebaik-sebaik tempatmu bergantung.

Duh rasanya begitu iri aku terhadapmu, duhai ahli fiqih Imam Syafi'i. Engkau menjadi pelita umat sebab engkau memuliakan ibumu. Lalu bagaimana dengan Kita ? Sudahkan Kita mencontohi akhlaknya  Imam Syafi'i terhadap ibu kita.  

Sudahkah kita menjadi anak kebanggaan ?
Sudahkan setiap Shalatmu engkau munajat kepada Allah, meminta ampunan untuk ibumu, meminta keberkahan umur untuknya, meminta agar ia sehat afiat. 

Kapan terakhir engkau menelpon Ibu ? 
Kapan terakhir engkau makan bersamanya ?
Kapan terakhir kali engkau meilhat senyumnya ?

Ibu, aku rindu...
Rindu peluk hangatmu, rindu dan rindu itu sulit untuk aku ceritakan.

Dear Ibu.





0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib